Wall Street kembali jatuh, saham-saham teknologi rontok

New York (ANTARA News) – Saham-saham di Wall Street jatuh untuk hari kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi lagi setelah laporan pekerjaan solid mengakhiri satu minggu dengan data ekonomi yang kuat.

Indeks Dow Jones Industrial Average menurun 180,43 poin atau 0,68 persen, menjadi berakhir di 26.447,05 poin.

Indeks S&P 500 berkurang 16,04 poin atau 0,55 persen, menjadi ditutup di 2.885,57 poin.

Indeks Komposit Nasdaq berakhir 91,06 poin atau 1,16 persen lebih rendah, menjadi 7.788,45 poin.

Penurunan tersebut dipimpin oleh saham-saham kelas berat di sektor jasa-jasa teknologi dan komunikasi termasuk semua anggota yang disebut grup FAANG — Facebook, Amazon, Apple, Netflix dan perusahaan induk Google, Alphabet.

Tingkat pengangguran menurun menjadi 3,7 persen pada September, dan total lapangan kerja payroll atau gaji pekerja non-pertanian meningkat sebesar 134.000, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan pada Jumat (5/10). Namun, angka itu jauh di bawah kenaikan yang diharapkan para analis sebanyak 185.000 pekerjaan.

Kenaikan lapangan pekerjaan terjadi di jasa-jasa profesional dan bisnis, di perawatan kesehatan, serta di transportasi dan pergudangan, kata departemen itu.

Pada September, rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada gaji non-pertanian swasta meningkat 8,00 sen AS menjadi 27,24 dolar AS. Selama setahun, rata-rata penghasilan per jam meningkat 73 sen AS atau 2,8 persen.

“Tidak diragukan lagi pasar kerja di Amerika Serikat mungkin yang terbaik dalam satu generasi — tidak ada pertanyaan atau perdebatan tentang itu,” kata Ekonom senior di Ameriprise Financial Services Inc, Russell Price, di Troy, Michigan, seperti dikutip Reuters.

“Laporan pekerjaan telah menjadi sebuah laporan inflasi,” tambahnya.

Laporan pekerjaan mendorong imbal hasil obligasi AS yang lebih panjang lebih tinggi lagi, dengan obligasi AS bertenor 10-tahun menyentuh 3,248 persen. Itu menumpuk lebih banyak tekanan pada saham-saham AS, yang diperdagangkan mendekati rekor tertinggi.

Para investor terus resah atas kenaikan imbal hasil obligasi yang mencapai tertinggi baru sejak 2011 pada Jumat (5/10).

Lonjakan suku bunga obligasi dimulai pada Rabu (3/10), didorong oleh data ekonomi yang kuat. Sementara itu, komentar terbaru dari pejabat tinggi Federal Reserve juga memicu imbal hasil obligasi lebih lebih tinggi.

Baca juga: Kenaikan imbal hasil obligasi dorong Wall Street berakhir lemah

Ketua Fed Jerome Powell pada Rabu (3/10) mengatakan bahwa bank sentral AS memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum suku bunga mencapai tingkat netral, menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga masih akan berlanjut.

Data yang kuat dan komentar dari pejabat The Fed dapat menjadi bullish untuk ekuitas, tetapi itu datang dengan efek samping memiliki kekhawatiran pada inflasi yang lebih besar dan kenaikan suku bunga, yang pada gilirannya adalah negatif untuk ekuitas, para ahli mencatat.

Baca juga: Saham perusahaan baja rontok, Bursa Spanyol anjlok 0,65 persen

Baca juga: Bursa Inggris ditutup anjlok 99,80 poin

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018